Kisruh Boeing 737 Tersandung Kasus Pengandangan Massal

Kisruh Boeing 737 sebagai salah satu jenis pesawat komersil pengangkut penumpang dalam jumlah banyak baru saja menjadi perbincangan hangat terbaru. Sejumlah perusahaan maskapai penerbangan asal negara Amerika Serikat terpaksa menghentikan seluruh jadwal terbang mulai awal Januari hingga Februari 2019 lalu. Apa sebabnya?

Usut punya usut, sejumlah perusahaan swasta tersebut menerima surat perintah wajib terkait adanya larangan untuk menerbangkan aset berupa pesawat mereka. Pelarangan untuk mengadakan penerbangan secara khusus hanya menargetkan jenis pesawat terbang Boeing 737 Max oleh otoritas lalu lintas udara AS.

Minimnya Informasi Terkait Fitur MCAS Terhadap Pilot

Melalui laman berita harian Kompas hari Senin, 28 Oktober 2019, pihak pemerintah Amerika Serikat menolak untuk memberi izin terbang. Secara spesifik juru bicara presiden mengatakan, khusus pesawat Boeing 737 MAX tidak diperkenankan beroperasi untuk sementara waktu karena terdapat masalah.

Baca artikel Lainya : Tips menentukan sekolah pilot berstandar internasional

Apabila bersikukuh ingin tetap menerbangkan pesawat Boeing tersebut, maka pihak perusahaan wajib menjalani serangkaian tes mulai dari general check-up menyeluruh. Bukan hanya itu, melainkan pihak terkait juga mesti mengurusi sejumlah izin tambahan yang rumit dan berbelit demi pembuktian kelayakan jalan.

Puluhan Boeing 737 Max sudah masuk kandang semenjak beberapa bulan sebelumnya akibat terjadi beberapa insiden kecelakaan udara dengan kondisi mengenaskan.  Salah satu dari antaranya merupakan laporan dari negara Indonesia, dilanjutkan oleh Ethiopia yang juga bernasib sama dalam tempo enam bulan.

Kisruh Boeing 737 Bermasalah Karena Kekeliruan Rancang Bangun

Kisruh Boeing 737 berlanjut kepada permohonan maaf dari CEO Boeing Co yaitu Dennis Muilenburg, dengan rendah hati mengakui kesalahan mereka. Dennis mengaku siap menanggung malu dan cercaan publik manakala terjadi kecelakaan 2 kali berturut – turut terhadap unit pesawat Boeing 737 Max. Setelah berbagai penelusuran intensif, terdapatlah beberapa penemuan masalah sebagai berikut:

  1. Minimnya Informasi Terkait Fitur MCAS Terhadap Pilot

Kekeliruan Rancang Bangun

Kejadian dari wilayah lokal Indonesia yaitu ketika maskapai Lion Air berkode JT-610 terbang dari Jakarta menuju Pangkal Pinang terpaksa mendarat darurat. 29 Oktober 2018, Boeing 737 Max milik perusahaan berlogo singa tersebut harus landing di laut sekitaran daerah Karawang demi penyelamatan.

Baru saja mengarungi langit selama kurang lebih 13 menit lamanya, tiba – tiba saja pesawat kehilangan keseimbangannya tepat pukul 06.33 WIB. Bahkan terlaporkan bahwa pilot yang bertanggung jawab saat itu mengajukan permohonan mendarat kembali (Return To Base) kepada pihak bandara Soekarno-Hatta.

Setelah engineer perusahaan Lion Air mengadakan pengecekan secara keseluruhan, barulah ketahuan bahwa ada engine error terkait MCAS pada kokpit pesawat. MCAS merupakan fitur penting untuk seorang pilot, merupakan singkatan dari Maneuvering Characteristics Augmentation System yang tidak boleh terganggu kinerjanya.

  1. Terdapat Retakan Pada Struktur Pesawat

Terdapat Retakan Pada Struktur Pesawat Kisruh Boeing 737

Sebelum varian MAX, perusahaan Boeing juga mendapati adanya retakan pada bagian struktur tubuh pesawat berjenis Boeing 737 tipe NG. Semua retakan tersebut ternyata mereka temukan pada lebih dari 800 unit pesawat yang sudah terpesan oleh puluhan nama maskapai penerbangan.

Ketika mengetahui hal fatal tersebut, public relation perusahaan Boeing segera mengadakan pengumuman genting secara mendadak sebelum semuanya berkembang menjadi tragedi. Sejumlah nama besar asal perusahaan maskapai seluruh dunia terpaksa menyetop aktifitas penerbangan mereka termasuk tiga di antaranya berasal dari Indonesia.

Dari tiga perusahaan nasional tersebut, mereka mendapati sedikitnya ada 5 unit pesawat bermasasalah jenis Boeing 737 NG sehingga harus menjalani perawatan. Ketiga perusahaan ternama itu adalah Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, hingga maskapai sejuta umat yaitu Lion Air, kompak bersama-sama mengajukan komplain.

  1. Sejumlah Pilot Belum Menjalani Latihan Mengendarai Boeing 737

Sejumlah Pilot Belum Menjalani Latihan Mengendarai Boeing 737

Lain halnya manakala kita berpindah ke kasus kecelakaan di Ethiopia, ternyata sang pilot yang sedang bertugas belum mengadakan persiapan standar. Bahkan menurut rumor yang beredar, pilot tersebut menerbangkan pesawat Boeing 737 MAX 8 tanpa melalui serangkaian proses latihan mengendarainya sebelumnya.

Nara sumber terpercaya melanjutkan pengakuannya, bahwa pihak maskapai mereka sebetulnya telah menyediakan simulator yang beroperasi dua bulan sebelum terjadinya kecelakaan. Sialnya, captain Yared Getachew selaku pilot bersangkutan belum menerima kursus tambahan mencakup fitur baru pada pesawat MAX 8 berkode 302.

Kejadian memalukan tersebut membuat perusahaan Boeing pusat mendapat tekanan kuat dari aliansi penerbangan internasional menyangkut masalah Ethiopia dan Indonesia tersebut. Pasalnya, insiden Ethiopia memakan korban jiwa massal mencapai 157 jiwa, sehingga pihak Boeing dituntut pertanggung jawabannya dalam proses pengadilan hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *