Corona Membunuh Industri Penerbangan

Corona membunuh industri penerbangan yang selama ini menjadi tulang punggung roda perekonomian global di seluruh dunia. Jenis bidang ini menyerap tenaga kerja yang jumlahnya mencapai jutaan jiwa dan mengisi piring makan bagi puluhan juta orang sehingga keberadaannya begitu penting bagi suatu negara.

Hingga detik ini, usaha maskapai penerbangan belum bisa dikatakan pulih karena pandemi akibat virus corona masih menghantui umat manusia. Setidaknya ada tujuh belas ribu pesawat harus masuk garasi dari berbagai bandara di seluruh penjuru dunia.

Corona Membunuh Industri Penerbangan Sehingga Banyak Maskapai Stop Operasi

Frekuensi maskapai yang melayani jadwal penerbangan setiap harinya kini mulai turun hingga delapan puluh persen angkanya sedari awal 2020. Dalam banyak kesempatan, kegiatan bepergian dengan pesawat terbang bahkan terhenti secara total sama sekali tanpa ada titik terang yang mampu memberikan sinyal lampu hijau padanya.

Perusahaan yang mengoperasikan pesawat terbang kini mesti memutar otak dengan keras agar bisa tetap bertahan hidup di tengah keringnya kondisi pasar. Sejumlah langkah darurat terpaksa dilaksanakan seperti misalnya penghematan besar – besaran yang menyebabkan ribuan pekerja harus berdiam diri di rumah sementara waktu.

Berkurangnya lapangan pekerjaan sedang berlangsung di semua negara, misalnya seperti British Airways yang mengemukakan akan merampingkan perusahaan. Lebih dari tiga puluh persen atau sekitar 12 ribu tenaga kerja harus dirumahkan dari total kepemilikan SDM sebanyak 42 ribu orang yang menggantungkan hidupnya di sana.

Corona Membunuh Industri Penerbangan Termasuk Pada Negara Maju

British Airways menyetujui statement bahwa corona membunuh industri penerbangan dalam masa cukup panjang sekitar beberapa tahun ke depan. Lebih lanjut, Easy Jet pun mengikuti langkah BA yang barusan mulai memecat karyawannya sebanyak empat ribu orang dalam regional Inggris untuk sementara waktu. Bahkan maskapai Flybe jatuh bangkrut akibat corona sehingga menambah panjang daftar rapor merah di sana.

Dengan fakta data yang terus menunjukkan penurunan grafik tajam, publik mulai bertanya – tanya tentang nasib industri penerbangan nantinya. Akankah bidang transportasi udara ini akan bisa mulai bangkit kembali dan segera beroperasi seperti sedia kala?

Corona Membunuh Industri Penerbangan Termasuk Pada Negara Maju

Tentu saja infrastruktur mulai hancur berantakan, sehingga tantangan harus bisa ditaklukan jika mereka masih ingin mencoba bangkit kembali. Pesawat yang terparkir harus selalu dirawat setiap harinya meskipun sedang tidak beroperasi, dan pastinya itu memakan biaya yang bisa dibilang tidak sedikit.

Belum cukup sampai situ, ternyata pekerjaan rumah industri ini masih terlalu banyak sehingga tidak akan bisa terselesaikan begitu saja semudah membalik telapak tangan. Apabila anda masih ingat dengan angka 17 ribu yang kami beberkan barusan, jumlah tersebut adalah 2/3 populasi armada transportasi udara di dunia.

British Airways juga menyimpan pesawat milik mereka di garasi bandara London Heathrow, Cardiff, hingga sampai ke negara Prancis. BA juga membuka layanan pengiriman ekspedisi jarak jauh demi menyambung hidup, namun tak sedikit yang kewalahan karena kekurangan SDM secara signifikan dalam volume tinggi.

Persiapan Untuk Bangkit Kembali Setelah Corona Lenyap Dari Muka Bumi

Meskipun saat ini corona membunuh industri penerbangan, akan tiba saatnya nanti ia lenyap dari muka bumi sehingga timbul masalah baru. Bisa dipastikan akan segera terjadi lonjakan permintaan akan kebutuhan menggunakan transportasi udara sehingga kondisi ini akan menawarkan tantangan seukuran raksasa.

Sejumlah pengamat dan peneliti mengemukakan bahwasanya ketakutan tidak beralasan tersebut belum tentu terjadi. Pasalnya, mereka yakin bahwa sebagian besar maskapai penerbangan akan mengawali terbang perdananya dalam jumlah sedikit.

Persiapan Untuk Bangkit Kembali Setelah Corona Membunuh Industri penerbangan

Bukan hanya itu, kita membutuhkan quality control ulang dalam rangka menyeleksi kelayakan tenaga kerja dalam standar tinggi penerbangan. Bahkan lebih ekstrimnya, pilot yang dulunya sering terbang pun harus mengikuti ujian ulang melalui simulator supaya bisa kembali bekerja seperti sedia kala nantinya.

Pilot tersebut juga mesti menjalani serangkaian proses pemeriksaan kondisi tubuh secara berkesinambungan pasca corona. Lalu masih ada lagi sejumlah elemen penting lainnya seperti pengatur lalu lintas transportasi udara, insinyur, serta teknisi yang wajib mengetes ulang kualifikasinya.

Bandara pun sebenarnya butuh pendapatan dari hasil penjualan barang mewah di areanya seperti kosmetik dan perhiasan lainnya. Setiap pemimpin negara pun hingga saat ini masih menolak membuka lintasan penerbangannya dan belum bisa memastikan kapan akan bisa beroperasi kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *